Ramadhan Yang Berbeda


Oleh : Shinta Ayu Lestari*
Bulan sya’ban di ujung penghabisan
Aku terdiam sejenak dalam kenangan
Larut dalam lantunan adzan toa masjid di ujung sana yang saling bersautan
Memanggil insan raih kemulian di bulan nan suci
Senyum ceria anak desa
Berloncat gembira menuju musholla
Walau petasan kecil tak lagi menyala seperti cahaya gemintang

Hari ini pintu rahmat Tuhan kembali diketuk
Mungkin saja suatu hari nanti kita kembali mengutuk
Ntahlah,,
Kita, hanya ingin jadi satu yang Tuhan “iya-kan”
Meski banyak kerumunan dosa, kita biasakan
Diambang batas kegelisahan
Kita hanya sebatas debu yang larut dalam fatamorgana dunia menyesatkan
Menunduk diri sejenak gemetar di kesunyian
Menyesali setiap kekelaman yang berlalu tanpa penghabisan

Ramadhan kini datang
Meski duka belum juga pulang
Amin menjadi satu suara
Meski berganti bisik satu persatu menuju udara
Ramadhan ini tak biasa,
Sebab banyak masjid kosong sedikit manusia
Doa doa pun tanpa pengeras suara
Bahkan, ada yang berbuka tanpa hangat keluarga

Kita, duduk di antara amin yang tersamarkan
Patah, pada tangis sebagian
Bumi muram berderai air mata
Sebab satu virus yang merangkai kisah pilu dunia
Menyebut asma ilahi memecah tangis di kesunyian malam
Melarutkan ku dalam ketenangan jiwa sesungguhnya
Diatas sajadah aku bersimpuh
Sunyi dan seutas tasbih menjadi saksi
Dari segala pilu dan kawanannya yang datang menghampiri
Hanya sandarkan harapan kepada pemilik alam semesta

Ramadhan,,,,
Jadilah senjata umat muslim sepanjang malam
Hingga bumi tak lagi histeris dan muram

Bumi, cepatlah pulih seperti sedia kala
Agar tak banyak orang berkawan dengan sunyi dan ketakutan.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alaamiin

Komentar

Postingan Populer